Kamis, 29 November 2012
Jumat, 23 November 2012
[cerpen] nabilah ingin rena kembali !
(CERPEN) NABILAH INGIN RENA KEMBALI !
Hujan
menyamarkan setiap tetes air mata Nabilah, Guntur seakan berbaur menemani tiap
isakan tangis Nabilah, petir bahkan tak menjadi masalah lagi bagi Nabilah. ia
terus berjalan menembus lebatnya hujan saat itu. Setiap mata melihat kearah
Nabilah, tak ada setitik dari seragam sekolahnya yang kering, semuanya basah
karena hujan. Bebarapa orang merasa begitu iba melihat Nabilah yang berjalan
ditengah hujan dengan isakan tangis, semua orang bisa mengetahui bahwa Nabilah
sedang benar-benar sedih. Kemudian saat Nabilah berada di salah satu kuburan
,Hujan mulai berhenti menyisakan beberapa tetes air. Nabilah kembali mengingat
kejadian dimana sahabatnya benar-benar pergi untuk selama-lamanya tanpa
mengucapkan sepatah kata untuknya.
Sebulan yang lalu saat terik panas benar-benar menyengat kulit, Nabilah dan
sahabatnya yang bernama Rena yang sudah ia kenal sejak kecil tengah berjalan
dipinggir jalan dekat sekolah, mereka baru saja pulang sekolah. Saat itu
Nabilah melakukan aksi diam seribu bahasa kepada sahabatnya itu
“ngambek
jangan lama-lama dong , aku harus minta maaf berapa juta kali sih biar kamu ga
marah lagi..? Aku akan terus mengikutimu sampai kamu maafin aku! ” Keluh Rena
merasa bersalah karena tanpa sengaja menjatuhkan Handphone Nabilah hingga
rusak.
“hey.
Denger dong!” pinta Rena sambil menepuk pundak Nabilah
“jangan
sentuh aku ! ”
bentak
Nabilah sambil mendorong pelan sahabatnya itu kemudian berjalan lebih cepat
saat menyeberang agar sahabatnya itu tertinggal jauh dibelakangnya, tepat saat
Nabilah tiba ditrotoar, lampu hijau pun menyala, tanpa disadari Rena yang
tengah berlari mengejar dirinya.
*PIIIIIIPPPP*
suara
klakson begitu nyaring ditengah keramaian lalu lintas berbarengan dengan suara
teriakan Rena dan seketika suasana jalanan menjadi sangat riuh, semua
orang berlarian menuju ketengah jalan kearah sumber teriakan tadi.
Nabilah ingin teriak, menangis sekeras-kerasnya tapi semua itu tertahan di
tenggorokan, nafasnya memburu , dadanya begitu sesak dan tubuhnya terjatuh
lemas memandang kerumunan orang tak percaya, beberapa menit kemudian pandangan
Nabilah kabur entah karena air mata atau kerena kepalanya begitu pusing melihat
kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya.
Saat bangun Nabilah sudah berada dirumah sakit, menemukan sosok kedua orang
tuanya dan orang tua Rena .
“bagaimana
keadaan Re...”
belum
sempat Nabilah menyelesaikan pertanyaan tiba-tiba saja Mama Rena menangis
memeluk suaminya, ibu Nabilah memandang anaknya dengan tatapan sedih, sedangkan
Papa Nabilah langsung memeluk diri Nabilah sambil mengelus kepalanya. Tentu
saja Nabilah langsung mengetahui apa yang baru saja terjadi.
“ga
mungkin ! Bilang pah, ! apa yang Nabilah pikirkan itu salah. Ayooo bilang pah
!!”
jerit
Nabilah berderai air mata, ia melepaskan pelukan Papanya kemudian menangis
histeris , melepas selang infuse ditangannya lalu berlari melewati pintu
kamarnya.
“Nabilah
!!” panggil Papanya langsung memeluk anaknya itu, membiarkan Nabilah meronta
dalam pelukannya, membiarkan Nabilah menangis memukul-mukul dadanya.
“Papa
lepaskan. Aku ingin melihat Rena. Ia pasti ada disalah satu kamar ini !!”
tangis
Nabilah semakin menjadi-jadi, dadanya kembali sesak, kepalanya terasa begitu
berat, ia begitu lemas bahkan butuh perjuangan untuk tetap mempertahankan
tubuhnya berdiri.
“sabar
sayang…” ucap Papa Nabilah sambil mengelus punggung anaknya.
“Rena
berjanji akan terus ada disamping aku sampai aku maafin Rena. Aku belum maafin
Rena sampai aku melihatnya. Jadi Rena tidak mungkin pergi !!” ungkap
Nabilah masih terus menangis.
Melihat
tingkah Nabilah, membuat orang tua Rena kembali bersedih teramat sedih
mendapatkan sosok sahabat Rena sedang menangis histeris mencari sosok anaknya
yang sudah berada jauh dari mereka semua.
“ini
semua karena aku pah. tante om maafin Nabilah, tante om boleh marah pada
Nabilah. Harusnya Nabilah yang ada di posisi itu, om tante !” Nabilah
manyalahkan dirinya, ia benar-benar membenci dirinya.
“bukan
nak. Om dan tante tidak akan menyalahkanmu. Semua ini karena takdir” ucap orang
tua Rena sambil mengelus kepala Nabilah kemudian membawanya kembali kekamar.
…..
Nabilah kembali melihat nisan didepannya, setiap kali mengingat kejadian itu dirinya
merasa seperti separuh dari hidupnya telah pergi.
“happy
birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy
birthday Rena” Nabilah menyanyi dikuburan sahabatnya, memeluk nisan yang
mengukir nama Rena.
“Lihat
ni aku bawain kue kesukaan kamu Ren” ucap Nabilah sambil menangis, entah sudah
berapa jam Nabilah berada di pusara sahabatnya. Orangtua Nabilah tiba-tiba
muncul dari belakang.
“ayo
kita pulang sayang..” ajak mamanya sambil menahan tangis, betapa sedih mamanya melihat
sosok anaknya yang kini menjadi rapuh, terkadang mendapati anaknya menjerit,
menangis, melamun, jatuh sakit, dan tidak nafsu makan.
“Nabilah
tidak mau pulang. Nabilah lagi ngerayaain ulangtahun Rena ma”, tunjuk Nabilah
kearah batu nisan yang terukir nama Rena.
“ia
sudah tidak ada sayang. sampai kapan kamu akan begini.. Pulang yah” bujuk
mamanya lagi berusaha tegar
“tidak
! Nabilah akan terus disini, nemenin dia. Ia pasti sedih ngerayain ulang tahun
sendiri” jelas Nabilah .
Tanpa
menunggu. Papa Nabilah lalu tiba-tiba menggendong anaknya menuju mobil, Nabilah
terus meronta_ronta
“lepass
!” jerit Nabilah sambil memukul Papanya, tapi permintaan Nabilah tidak
ditanggapi Papanya,
ia
malah dimasukan ke mobil kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan pusara
sahabatnya.
“kalian
jahat !” jerit Nabilah marah sambil memandang keluar.
“sampai
kapan kamu akan terus begini nak?” tanya Mama Nabilah , tapi pertanyaan itu
tidak dijawab oleh anaknya.
Sesampainya dirumah Nabilah langsung masuk kamar, kemudian terdengar suara dari
kamar Nabilah, suara barang-barang yang di lempar ke arah dinding.
“kenapa
bukan aku yang ada dalam kuburan itu? Kenapa kamu pergi tinggalin aku Ren?
Kalau kamu bosan denger cerita aku, bosan ngeliat aku, kalau kamu tidak suka
aku contekin bilang dong , tidak usah begini caranya. Tidak usah siksa aku
begini. Kalau masalah Handphone aku belum mau maafin kamu sampai kamu hadir
dihadapan ku, makanya kamu kembali dong !” teriak Nabilah sambil menangis .
“Nabilah,
buka sayang !” pinta Papanya sambil terus menggedor pintu kamar Nabilah.
Karena
tidak mendapat jawaban akhirnya Papa Nabilah mendobrak pintu kamar Nabilah lalu
kemudian menyuruh istrinya mengambil suntik. Papa Nabilah memegangi tubuh
Nabilah dan kemudian mamanya menyuntikan obat penenang yang membuat Nabilah
merasa lelah dan mengantuk, setelah itu Nabilah pun tertidur.
Dalam
sebulan Nabilah sudah disuntik obat penenang sebanyak 5 kali, ia pun tidak
pernah masuk sekolah sejak kepergian Rena. Orangtua Rena pun telah kembali ke
Jepang berusaha melupakan bayangan anaknya.
Mama nabilah menangis memandangi anaknya yang kini sedang tertidur, ia mengerti
kedekatan Nabilah dan sahabatnya, mereka sudah bersama sejak umur 5 tahun tentu
saja bukan hal mudah untuk menerima kalau sosok sahabatnya kini berada dialam
yang berbeda. Sepanjang malam MamaNabilah terus berada disamping anaknya sambil
memegangi tangan anaknya, Mama nabilah berusaha mengingat sosok anaknya yang
dulu, yang ceria, semangat kesekolah, selalu menjadi penyemangat untuk dirinya
dan suaminya , terkadang bisa menjadi sangat bijak dalam menyikapi masalah.
Tapi kini, ia bahkan tidak mengenal lagi sosok yang tengah tidur didepannya.
Saat bangun Mama nabilah tidak menemukan sosok anaknya didalam rumah, Papanya
pun sudah mencari ke pusara sahabat anaknya tapi tidak juga ketemu, disekolah
pun tidak ada, Nabilah tidak pernah menghilang.
“kemana
kamu nak?” tanya mamanya sambil terus menangis, didalam mobil Mama nabilah
terus gelisah.
“tenang
ma, Nabilah pasti tidak apa-apa” ucap Papa nabilah berusaha menenangkan
istrinya ,
Mama
nabilah tampak pucat tubuhnya lemas memikirkan anaknya melakukan hal yang
tidak-tidak. Segala tempat yang dulu Nabilah dan sahabatnya datangi sudah
didatangi oleh orang tua nabilah tapi anaknya toh tidak juga ketemu, hingga jam
14:15 siang, orangtua Nabilah kembali melewati sekolah anaknya, menunggu kalau
saja Nabilah tiba-tiba keluar dari sekolah , entah apa yang membuat Papa
nabilah yakin kalau anaknya akan berada disekolah atau sekitar sekolah, ia
merasakan anaknya tidak jauh. Sudah banyak anak yang keluar dari gerbang
sekolah tapi Nabilah tidak juga muncul.
“NABILAAAH”
teriak Mama nabilah kemudian keluar dari mobil berlari mengejar anaknya yang
ternyata terlihat sedang berjalan di jalan raya saat lampu hijau. Mama dan
Papanya histeris melihat pemandangan mobil yang melaju dengan cepat kearah
Nabilah.
*PPPIIIIIPPPPP*
“Nabilaaaah
!!!!!”
teriak
Mama dan Papanya masih berlari berusaha menarik anaknya yang begitu jauh dari
jangkauan mereka , teman-teman dan murid dari sekolah Nabilah seketika berhenti
melihat sosok yang mereka kenal.
“GILAAA.
Kamu mau mati yah? Kalau mau mati jangan disini” maki pengemudi yang hampir
saja menabrak Nabilah tapi untung saja pengemudi tadi sempat me nge-rem
mobilnya, dalam sepersekian detik Nabilah sudah ditarik menepi menjauh dari
jalan raya.
“apa-apaan
kamu !” maki sang Papa panik, tapi Nabilah hanya diam terpaku, tak lama
kemudian Mama nabilah yang sedari tadi diam sambil memeluk Nabilah kini jatuh
pingsan.
“maaa….”
panggil Nabilah,
Nabilah
dan Papanya segera membawa sang Mama kerumah sakit. Nabilah menangis disamping
tempat tidur mamanya. ia menyadari kebodohannya selama ini, menyalahkan diri
sendiri, menyangkal bahwa tidak ada yang namanya takdir kehidupan, tenggelam
dalam kesedihan sendiri dan melupakan bahwa ada yang terpukul melihat
kondisinya seperti sekarang yaitu kedua orang tuanya,
ia
bahkan melupakan bahwa ia masih memiliki tempat bertopang , ia terlalu lama
mengabaikan ke-khawatiran orang tuanya hanya karena merasa dirinya bersalah
atas kematian Rena. Toh kematian sahabatnya itu karena takdir dan itu semua
bukan karena ia, jika memang karena ia, harusnya tadi ia juga sudah meninggal,
tapi ajalnya belum saatnya maka mobil itu pun tidak menabraknya,
mungkin
bisa saja waktu itu Rena juga selamat sama seperti hari ini ia selamat,
tapi ajal sahabatnya memang sudah tiba. Nabilah berpikir seharusnya ia tidak
seperti sekarang mencoba bermain dengan nyawanya, menangis, histeris, melamun,
semua itu tidak ada gunanya, sahabatnya tidak akan kembali , malah
orangtua nabilah jatuh sakit memikirkan Nabilah , ia lalu sadar bahwa seharusnya
yang ia bisa lakukan sekarang adalah dengan mengirim doa untuk sahabatnya.
Nabilah
melihat mamanya telah membuka mata, langsung saja ia berlari memanggil
suster dan Papanya, setelah memeriksa dan dokter mengatakan mamanya akan
kembali pulih total esok hari, seketika hati Nabilah menjadi lega.
“maafin
Nabilah ma” ucap tulus Nabilah sambil memeluk mamanya.
“kamu
tidak apa-apa nak?” tanya Mama nabilah yang hanya dibalas anggukan.
“kamu
jangan begini terus, kamu masih punya kami , Mama dan Papa juga merasa
kehilangan, dua kali melebihi rasa kehilangan yang kamu rasakan. Kehilangan
sahabat kamu yang kami sudah anggap anak, dan kehilangan anak sendiri . Mama
hampir melupakan sosok anak Mama yang dulu, karena sekarang sosoknya tak lebih
dari seorang pemurung. Bahkan Mama dan Papa tidak mampu menjadi penopang bagi
anak sendiri. Kamu tau betapa sedihnya Mama melihat kamu?” jelas sang Mama
sambil memegang tangan anaknya.
“jika
kamu tersesat maka jadikanlah kami sebagai kompas mu, jika kamu terjatuh
jadikanlah kami sebagai tempat mu berpijak, jika kamu bersedih jadikan kami
sapu tangan mu nak. Kamu tidak sendiri, kamu masih punya Mama dan Papa yang
menyayangimu, memperdulikanmu, bahkan jika kamu melupakan kami , kami akan
terus mengingat mu” sambung sang Papa sambil merangkul pundak anaknya.
“makasih
ma, pa . Nabilah minta maaf. Nabilah akan belajar dari semua ini” ucap Nabilah
sambil memeluk kembali mamanya kemudian memeluk Papanya.
Dua
hari setelah sang Mama keluar dari rumah sakit, Nabilah kembali masuk sekolah
dan mengejar ketertinggalannya, sepulang sekolah hari ini ia berkunjung ke
pusara sahabatnya
“hey
Rena. Kamu jangan marah kalau sekarang aku sering tersenyum. Bukan karena aku
telah melupakan mu. Aku minta maaf , mungkin sekarang aku masih sedih tapi aku
tidak lagi meratapi kepergian mu Rena. Aku minta maaf juga karena selama ini
tidak sempat mengirimkanmu doa. Kamu akan terus menjadi sahabatku semarah
apapun aku padamu, kamu tau itu kan?” Nabilah menundukan kepala sejenak kemudian
mengirimkan doa untuk sahabatnya, lalu tersenyum berjalan meninggalkan pusara
sahabatnya.
Sebelum
masuk mobil dimana Mama dan Papanya sudah menunggu, Nabilah merasakan angin
yang begitu sejuk tengah menerpa pipinya , Nabilah menutup mata sejenak merasakan
belaian lembut tangan sahabatnya dan berkata dalam hati
“terimakasih”
..
"oh
ia... aku uda maafin kamu soal Handphone aku kok.. hehe"
ucap
Nabilah sekali lagi setelah itu naik kemobil dan kembali kerumah dan menjalani
kehidupan normalnya kembali.
(sumber: gusnaedy fadly48) :)
Langganan:
Postingan (Atom)

















0 komentar: